Rabu, 25 Mei 2016

Nilai-nilai Yang Diperjuangkan Kartini atau Kebaya Kartini?


Tulisan ini saya tulis saat peringatan RA Kartini, 2015 lalu. slamat membaca, smoga bermanfaat :)
#latepost


Segala puji bagi  Allah yang telah merahmati bangsa kita Indonesia sebagai bangsa yang memiliki banyak perbedaan namun sejatinya adalah satu, “Bhineka Tunggal Ika”.
Kita perlu bangga menjadi bangsa Indonesia. Bangsa yang kaya akan sumber daya alam, serta kaya akan kebudayaan. Kita bisa melihat dari sabang sampai merauke, baju-baju batik kita, alat-alat musik kita, lagu-lagu daerah kita, dan bahasa-bahasa setiap daerah. Namun demikian, kita mempunyai banyak persatuan. Kita menjadi satu  sebagai bangsa Indonesia dengan bahasa yang satu, bahasa Indonesia, ideologi yang satu- ideologi Pancasila. Di Indonesia inilah lahir para pejuang bangsa baik laki-laki maupun perempuan.
Hari ini, kurang lebih 136 tahun yang lalu, tepatnya tanggal 21 April 1879 di Jepara lahirlah putri bangsa dari kalangan priyayi atau kelas bangsawan jawa yang bernama RA Kartini. Beliau dikenal sebagai seorang tokoh suku Jawa dan Pahlawan Nasional Indonesia. Beliau merupakan sosok pelopor kebangkitan perempuan pribumi.
Apa yang diperjuangkan kartini?
Pada zaman kartini, rakyat Indonesia tidak diperbolehkan untuk bersekolah. Pengetahuan mereka hanya berkisar seputar kehidupan petani dan bekerja hanya pada hal yang berhubungan dengan pekerjaan rumah tangga. Hanya golongan atau keturunan bangsawan sajalah yang bisa bersekolah. Itu pun tidak sampai pada jenjang yang tinggi.
Kondisi sosial saat itu, terutama tentang kondisi perempuan pribumi sangat memprihatinkan. Sebagian besar budaya di Jawa dipandang sebagai penghambat kemajuan perempuan.
Penderitaan perempuan Jawa akibat kungkungan adat, yaitu tidak bisa bebas duduk di bangku sekolah, harus dipingit, tidak bisa bermain, harus belajar menjahit, mencuci, memasak dan belajar pekerjaan rumah tangga lainnya.
Melihat keadaan yang seperti itu, timbul keinginan Kartini dari hati terdalamnya untuk membuat masyarakat Indonesia mempunyai persamaan hak terutama dalam hal pendidikan. Tidak terkungkung oleh aturan adat dan bisa memperoleh pendidikan yang bagus, hingga pada akhirnya mereka bisa menjadi masyarakat yang tangguh dan bisa mempersembahkan yang terbaik untuk bangsa Indonesia tercinta.
Oleh karena itu, Kartini ingin wanita memiliki kebebasan menuntut ilmu dan belajar. Kartini menulis ide dan cita-citanya atas dasar yaitu Ketuhanan, Kebijaksanaan dan Keindahan) ditambah dengan peri kemanusiaan cinta tanah air.
Awalnya, Kartini dilarang ayahnya untuk sekolah, sebagaimana adat Jawa pada waktu itu yang masih membedakan antara kaum perempuan dengan kaum laki-laki. Tetapi tekad Kartini untuk memajukan orang Indonesia sangat kuat . Karena tekadnya yang sudah bulat untuk memajukan bangsa Indonesia, Kartini pun memutuskan untuk mengajar orang-orang desa tersebut.
Pada akhirnya perjuangan Kartini berhasil. Semua rakyat menjadi bersuka cita karena terlepas dari kebodohan. Mereka bisa menuntut ilmu atau belajar sampai ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Hal ini bisa dilihat pada kehidupan masyarakat Indonesia pada saat ini yang sudah semakin maju dari tahun ke tahun.
Dengan pendidikan yang baik ini, hampir dijumpai di setiap bidang kehidupan tidak terlepas dari berbagai profesi pendidikan yang membuat bangsa ini semakin maju dari waktu ke waktu. Selain itu, perempuan juga dapat belajar seperti halnya laki-laki.
Apa yang harus kita teladani?
Atas jasa yang diberikan kartini kepada bangsa Indonesia inilah yang menjadikan seluruh bangsa Indonesia mengenang dan memperingati kelahiran kartini dengan tujuan menteladani jasa kartini tersebut.
Namun demikian, banyak sekali yang merayakan hari kartini dengan perayaan busana kartini, model kebaya kartini lengkap dengan sanggul khas jawanya tanpa menghadirkan jiwa kartini dan nilai-nilai yang diperjuangkan kartini. Sehingga, yang terpatri pada anak-anak bangsa kita ini hanyalah sosok tokoh kartini berkebaya dan bersanggul. Begitu murahkah perjuangan kartini sehingga dapat ditukar dengan kebaya dan sanggul yang dikenakan saat itu? kemanakah nilai-nilai perjuangannya?. Beginilah jikalau hanya menteladani sosok kartini sebagai tokoh saja, bukan kartini sebagai sosok wanita yang memperjuangkan kartini. jikalau hanya tokohnya saja yang ditampilkan, maka yang terjadi nilai perjuangan tak tersampaikan. Namun, jika nilai-nilai perjuangan kartini yang ditampilkan maka perjuangan kartinipun memancar.
Maka, teladani perjuangan kartini. Hiduplah sebagai kartini pembawa kebangkitan kaum perempuan. Berjuanglah untuk bangsa. Bersatulah antar bangsa Indonesia. Musuh terbesar kita adalah kebodohan dan kemiskinan, maka lawalah atas nama bangsa, Bangsa yang bertanah air satu, TANAH AIR INDONESIA.

Barometer Nilai Kemanusiaan



            Ketika manusia dihidupkan, disitulah lahir sebuah nilai yang tinggi. Karena, untuk mendapatkan predikat manusia, ia harus mencapainya dengan tahapan-tahapan tertentu, artinya, nilai kemanusiaan tidak didapat secara cuma-cuma, melainkan dengan usaha. Dimana dalam pencapaian kemanusiaannya, ia bisa lebih tinggi nilainya daripada malaikat, namun juga bisa lebih rendah nilainya daripada hewan. Mengapa bisa demikian? Ini karena manusia diciptakan dari 2 unsur, yaitu: Lempung busuk dan roh Tuhan. Manusia adalah sintesa dari kedua hal tersebut, dan kedua hal tersebut senantiasa tarik menarik dan akhirnya akan memaksa manusia untuk memilih salah satunya.
Seperti dalam pandangan Ali Syari'ati, Adam adalah simbol representatif dari manusia secara keseluruhan. Dalam menafsirkan penciptaan Adam, Syari'ati membahas kejadian Adam yang diciptakan dari Ruh Allah dan lumpur busuk. Kedua term tersebut dimaknai secara simbolik, Lumpur busuk bermakna kerendahan, stagnasi, dan pasivitas mutlak. Sedangkan Ruh Allah adalah simbol dari gerakan tanpa henti menuju kesempurnaan dan kemuliaan yang tidak terbatas.
Pada masa awal penciptaannya, manusia berada pada titik netral, dan seiring dengan perjalanan hidupnya manusia melakukan gerak evolusi, baik evolusi progresif menuju Ruh Allah maupun evolusi regresif menuju lumpur busuk. Jika manusia melakukan evolusi progresif maka manusia akan tiba pada kemuliaan dan kesempurnaannya yang hakiki ("bersatu dengan-Nya"). Sedangkan jika yang terjadi adalah evolusi regresif maka manusia jatuh derajatnya dan hanya setara dengan lumpur busuk, yang dalam bahasa Alquran disebut lebih jelek dari binatang ternak.
Setelah Tuhan menciptakan Adam, kemudian Tuhan mengajarkan kepada Adam pengetahuan tentang "nama-nama" segala sesuatu. Jadi dalam penciptaan manusia, Tuhan adalah pencipta sekaligus sebagai guru pertama bagi manusia. Dan selanjutnya, manusia kemudian tampil sebagai pemberi nama bagi dunianya. Karena "perlakuan" Tuhan yang begitu istimewa kepada manusia, malaikat pun protes kepada tuhan, karena Tuhan telah mengistimewakan manusia. Menanggapi protes malaikat tersebut, Tuhan pun kemudian meminta Adam untuk mendemonstrasikan kemampuannya di hadapan para malaikat, lalu Tuhan menyuruh malaikat untuk sujud kepada Adam. Syari'ati menyatakan, sujudnya malaikat kepada Adam adalah perlambang dari humanisme. Derajat manusia diangkat sedemikian rupa setingkat lebih tinggi dari para malaikat suci. Ketinggian derajat manusia atas malaikat bukanlah karena rasialisme, melainkan karena manusia memiliki pengetahuan.
Maka dari itu, barometer tingginya nilai kemanusiaan terletak pada pengetahuan. Ketika manusia memiliki banyak pengetahuan, niscaya ia akan meniru Sang Penciptanya, maka lebih tinggi derajatnya daripada malaikat. Sebaliknya, ketika manusia itu bodoh, tidak memiliki pengetahuan, niscaya ia akan kembali pada unsur lempung busuknya yang akan membuat ia lebih rendah dibandingkan dengan hewan.