Rabu, 25 Mei 2016

Barometer Nilai Kemanusiaan



            Ketika manusia dihidupkan, disitulah lahir sebuah nilai yang tinggi. Karena, untuk mendapatkan predikat manusia, ia harus mencapainya dengan tahapan-tahapan tertentu, artinya, nilai kemanusiaan tidak didapat secara cuma-cuma, melainkan dengan usaha. Dimana dalam pencapaian kemanusiaannya, ia bisa lebih tinggi nilainya daripada malaikat, namun juga bisa lebih rendah nilainya daripada hewan. Mengapa bisa demikian? Ini karena manusia diciptakan dari 2 unsur, yaitu: Lempung busuk dan roh Tuhan. Manusia adalah sintesa dari kedua hal tersebut, dan kedua hal tersebut senantiasa tarik menarik dan akhirnya akan memaksa manusia untuk memilih salah satunya.
Seperti dalam pandangan Ali Syari'ati, Adam adalah simbol representatif dari manusia secara keseluruhan. Dalam menafsirkan penciptaan Adam, Syari'ati membahas kejadian Adam yang diciptakan dari Ruh Allah dan lumpur busuk. Kedua term tersebut dimaknai secara simbolik, Lumpur busuk bermakna kerendahan, stagnasi, dan pasivitas mutlak. Sedangkan Ruh Allah adalah simbol dari gerakan tanpa henti menuju kesempurnaan dan kemuliaan yang tidak terbatas.
Pada masa awal penciptaannya, manusia berada pada titik netral, dan seiring dengan perjalanan hidupnya manusia melakukan gerak evolusi, baik evolusi progresif menuju Ruh Allah maupun evolusi regresif menuju lumpur busuk. Jika manusia melakukan evolusi progresif maka manusia akan tiba pada kemuliaan dan kesempurnaannya yang hakiki ("bersatu dengan-Nya"). Sedangkan jika yang terjadi adalah evolusi regresif maka manusia jatuh derajatnya dan hanya setara dengan lumpur busuk, yang dalam bahasa Alquran disebut lebih jelek dari binatang ternak.
Setelah Tuhan menciptakan Adam, kemudian Tuhan mengajarkan kepada Adam pengetahuan tentang "nama-nama" segala sesuatu. Jadi dalam penciptaan manusia, Tuhan adalah pencipta sekaligus sebagai guru pertama bagi manusia. Dan selanjutnya, manusia kemudian tampil sebagai pemberi nama bagi dunianya. Karena "perlakuan" Tuhan yang begitu istimewa kepada manusia, malaikat pun protes kepada tuhan, karena Tuhan telah mengistimewakan manusia. Menanggapi protes malaikat tersebut, Tuhan pun kemudian meminta Adam untuk mendemonstrasikan kemampuannya di hadapan para malaikat, lalu Tuhan menyuruh malaikat untuk sujud kepada Adam. Syari'ati menyatakan, sujudnya malaikat kepada Adam adalah perlambang dari humanisme. Derajat manusia diangkat sedemikian rupa setingkat lebih tinggi dari para malaikat suci. Ketinggian derajat manusia atas malaikat bukanlah karena rasialisme, melainkan karena manusia memiliki pengetahuan.
Maka dari itu, barometer tingginya nilai kemanusiaan terletak pada pengetahuan. Ketika manusia memiliki banyak pengetahuan, niscaya ia akan meniru Sang Penciptanya, maka lebih tinggi derajatnya daripada malaikat. Sebaliknya, ketika manusia itu bodoh, tidak memiliki pengetahuan, niscaya ia akan kembali pada unsur lempung busuknya yang akan membuat ia lebih rendah dibandingkan dengan hewan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar