Ketika manusia dihidupkan, disitulah
lahir sebuah nilai yang tinggi. Karena, untuk mendapatkan predikat manusia, ia
harus mencapainya dengan tahapan-tahapan tertentu, artinya, nilai kemanusiaan
tidak didapat secara cuma-cuma, melainkan dengan usaha. Dimana dalam pencapaian
kemanusiaannya, ia bisa lebih tinggi nilainya daripada malaikat, namun juga
bisa lebih rendah nilainya daripada hewan. Mengapa bisa demikian? Ini karena manusia
diciptakan dari 2 unsur, yaitu: Lempung busuk dan roh Tuhan. Manusia adalah sintesa dari kedua
hal tersebut, dan kedua hal tersebut senantiasa tarik menarik dan akhirnya akan
memaksa manusia untuk memilih salah satunya.
Seperti
dalam pandangan Ali
Syari'ati, Adam adalah simbol representatif dari manusia secara keseluruhan.
Dalam menafsirkan penciptaan Adam, Syari'ati membahas kejadian Adam yang
diciptakan dari Ruh Allah dan lumpur busuk. Kedua term tersebut dimaknai secara
simbolik, Lumpur busuk bermakna kerendahan, stagnasi, dan pasivitas mutlak.
Sedangkan Ruh Allah adalah simbol dari gerakan tanpa henti menuju kesempurnaan
dan kemuliaan yang tidak terbatas.
Pada
masa awal penciptaannya, manusia berada pada titik netral, dan seiring dengan
perjalanan hidupnya manusia melakukan gerak evolusi, baik evolusi progresif
menuju Ruh Allah maupun evolusi regresif menuju lumpur busuk. Jika manusia
melakukan evolusi progresif maka manusia akan tiba pada kemuliaan dan
kesempurnaannya yang hakiki ("bersatu dengan-Nya"). Sedangkan jika
yang terjadi adalah evolusi regresif maka manusia jatuh derajatnya dan hanya
setara dengan lumpur busuk, yang dalam bahasa Alquran disebut lebih jelek dari
binatang ternak.
Setelah Tuhan menciptakan Adam, kemudian Tuhan mengajarkan
kepada Adam pengetahuan tentang "nama-nama" segala sesuatu. Jadi
dalam penciptaan manusia, Tuhan adalah pencipta sekaligus sebagai guru pertama
bagi manusia. Dan selanjutnya, manusia kemudian tampil sebagai pemberi nama
bagi dunianya. Karena "perlakuan" Tuhan yang begitu istimewa kepada
manusia, malaikat pun protes kepada tuhan, karena Tuhan telah mengistimewakan
manusia. Menanggapi protes malaikat tersebut, Tuhan pun kemudian meminta Adam
untuk mendemonstrasikan kemampuannya di hadapan para malaikat, lalu Tuhan
menyuruh malaikat untuk sujud kepada Adam. Syari'ati menyatakan, sujudnya
malaikat kepada Adam adalah perlambang dari humanisme. Derajat manusia diangkat
sedemikian rupa setingkat lebih tinggi dari para malaikat suci. Ketinggian
derajat manusia atas malaikat bukanlah karena rasialisme, melainkan karena
manusia memiliki pengetahuan.
Maka
dari itu, barometer tingginya nilai kemanusiaan terletak pada pengetahuan.
Ketika manusia memiliki banyak pengetahuan, niscaya ia akan meniru Sang
Penciptanya, maka lebih tinggi derajatnya daripada malaikat. Sebaliknya, ketika
manusia itu bodoh, tidak memiliki pengetahuan, niscaya ia akan kembali pada
unsur lempung busuknya yang akan membuat ia lebih rendah dibandingkan dengan
hewan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar