Minggu, 25 Desember 2016

Kami Toleransi Bukan Basa Basi

Setiap tahun ummat kristiani merayakan Natal, setiap tahun pula sebagian ummat muslim repot mempersoalkan urusan saudara semuslim lainnya yang mengucapkan selamat Natal kepada "saudara kandungnya".

Ini bukan soal akidah, tapi soal muamalah. Mengapa takut untuk menyapa saudara kita? Padahal, mereka tak pernah mentidakbolehkan mengucapkan slamat hari raya idul fitri pada ummat muslim?

Kalau takut ya sudah takut saja sendiri, bukan malah mengecam yang lain untuk bertoleran.

Persoalan pengucapan selamat Natal pada saudara non muslim merupakan cerminan kita  bagaimana kita menjaga hubungan baik dengan sesama manusia, bagaimana kita menjaga ketentraman di bumi, itulah yang diharapkan Tuhan Sang Maha Cinta!!

Maka, marilah bertoleransi, dengan sebenar-benarnya toleransi! Bukan hanya basa-basi!

Mari bertoleransi dengan menghargai sesama kita, bukan berpura-pura!

Toleransi bukan cuma perbedaan pendapat, tapi juga cara memandang segala sesuatu yang berbeda di luar kita.

Pegang keyakinanmu mati-matian, tapi juga biarkan orang lain memegang keyakinannya mati-matian!

Salam toleransi!

Sabtu, 24 Desember 2016

Pancasila, Lima Dasar Cinta

Cinta, satu kata yang sebenarnya dalam mengekspresikannya tak perlu bahasa. Tapi, tanpa bahasa seseorang tak bisa memahami eksistensi cinta. Kecuali yang sudah mabuk cinta!


Jika kita tahu dan kita pelajari, falsafah atau ideologi bangsa ini ada atas dasar cinta. Bagaimana tidak, kelima dasar itu berdiri dengan prinsip universal. Ia melampaui seluruh perbedaan yang ada pada masyarakat Indonesia.


Sebagaimana di kutip dalam bukunya Yudi Latif, bahwa kesemua Sila dalam Pancasila diepersatukan oleh Cinta Kasih.

Manusia ada karena ada yang menciptakan. Manusia adalah kristalisasi dari cinta kasih Sang Maha Pencipta sebagai sebab pertama. Sebagai makhluk ciptaan, ia tebatas, relatif dan tergantung sehingga memerlukan keterbukaan pada sesuatu yang transenden untuk menemukan sandaran religi yang mutlak. Menolak transendensi yang mutlak beresiko memultlakkan yang relatif. saat religi dimungkiri, manusia terdorong untuk memutlakkan hal-hal yang imanen. sebagai kristalisasi dari cinta kasih "Tuhan", manusia harus mengembangkan cara berketuhanan yang penuh dengan cinta kasih. (Ketuhanan Yang Maha Esa)

Manusia ada bersama. Ia tak mungkin bisa berdiri sendiri, itu sebabnya ia disebut makhluk sosial. Untuk ada bersama yang lain, manusia tidak bisa tidak harus ada bersama dengan Cinta; dengan mengembangkan rasa kemanusiaan yang penuh cinta kasih yang lain. (Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab)

Dalam ada bersama, manusia sebagai makhluk sosial memerlukan ruang hidup yang kongkret dan pergaulan hidup dalam ralitas kemajemukan semesta mansusia. Cara menghidupkan cinta kasih dalam kebhinekaan manusia yang mendiami tanah air ini adalah dengan menjaga persatuan bangsa! (Persatuan Indonesia)

Dalam mengembangkan kehidupan bersama, cara mengambil keputusan yang menyangkut masalah bersama ditempuh dengan semangat cinta kasih. Ukuran utama dari cinta adalah saling menghormati. Cara menghormati manusia dengan memandangnya sebagai subjek yang berdaulat, bukan objek manipulasi, eksploitasi dan eksekusi, itulah yang disebut demokrasi dalam arti sejati. (Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat dalam kebijaksanaan perwakilan)

Keberadaan manusia ialah roh yang menjasmani. Secara Jasmaniah, manusia memerlukan papan, sandang dan pangan. Perwujudan khusus kemanusiaan melalui cara mencintai sesama manusia dengan berbagi kebutuhan jasmaniah secara Fair . Itulah yang disebut dengan Keadilan Sosial!
(Keadilan sosial Bagi seluruh rakyat Indonesia)

Jumat, 23 Desember 2016

Om Toleran Om!

Ramenya "lebaran" Telolet hampir ngalahin lebaran yang sebenarnya.

Dari anak-anak sampai yang sudah beranak tak lupa mengucapkan om telolet om. Bahkan, dilingkungan kampus yang ga ada bus pun, orang-orang berebut "Zikiran" om telolet om!

Disadar atau tidak, kata om telolet om masuk di dalam alam bawah sadar kita. Padahal, kata itu tak ada makna yang bisa diambil kebermanfaatannya. Hanya ada satu makna, meminta dibunyikannya klakson telolet. Just that!

Ironisnya, sebagian orang yang dalam dirimnya punya penyakit parno akut, menghubungkannya dengan Yahudi.

Hellowww, waktu pokemon go booming dihubungkan dengan yahudi, om telolet om juga dihubungkan dengan yahudi. Masih sehat otaknya?

Perlu kita ketahui bahwa, ada persoalan yang lebih penting daripada urusan remeh telolet.

Dari persoalan yang ada, yang paling bahaya dan mengancam keutuhan NKRI tak lain maraknya kaum intoleran di Indonesia. Ini karena, tidak adanya lembaga yang khusus menangani kaum intoleran.

Maka dari itu, kitalah yang harus ambil bagian dalam menjaga NKRI. Maka, apalagi selain menyebarkan toleransi???

Daripada yang masuk ke dalam alam bawah sadar kita om telolet om, lebih baik kita dendangkan, kita serukan OM TOLERAN OM!!

Mari toleran! Om toleran om!

Salam toleransi!

Surat Terbuka Muslimah untuk Saudara Kristen.


Selamat Natal,,,
Selamat Natal,,,
Selamat Natal...

Saudaraku, aku ucapkan selamat Natal untukmu. Setiap tahun, kamu merayakannya, dan setiap tahun kami umat Islam mengusik perayaanmu.

Tapi, tenanglah. Tidak semua umat Islam seperti itu saudaraku. Masih ada sebagian lagi yang akan menghormatimu, bahkan mengucapkan selamat untukmu atas hari rayamu!

Saudaraku, Isa yang kau sebut sebagai firman Tuhan juga kami mengakui sebagai Nabi kami. Maka, kelahirannya juga patut kami rayakan.

Saudaraku, ini hanya persoalan perbedaan cara pandang. Tapi, sejatinya satu yang dituju (baca: Isa/Yesus). Maka, sebenarnya kita memang saudara!

Saudaraku, dalam ajaranmu kau junjung rasa cinta kasih. Dalam ajaran kami pun selalu menjunjung welas asih! Maka, kita memiliki satu titik lagi, persamaan!

Kenapa tidak, dalam satu titik itu kita jadikan saling? Kita saling mencintai! Kita saling menyebarkan cinta kasih! Inilah yang disebut keindahan!

Saudaraku, maafkan mereka yang bersikap intoleran padamu. Mereka hanya orang-orang yang tidak memahami ajaran mereka sendiri. Mereka hanya orang-orang yang mencari sensasi.

Maka, ku ucapkan sekali lagi, selamat natal saudaraku...

Om Telolet Om!

Fenomena yang terjadi beberapa tahun yang lalu kembali didengungkan. Persoalan yang sangat remeh justru menjadi viral.

Mungkin jika itu ramai dikalangan anak-anak, tak masalah. Pasalnya, anak-anak kehilangan haknya, khususnya dalam tayangan televisi. Mereka jenuh. yang seharusnya mereka dapatkan tayangan yang sesuai untuk mereka, malah yang terjadi sebaliknya. Isinya tentang cinta, pacaran, kekerasan dalam rumah tangga dsb. Terlebih, berita-berita yang disodorkan peliknya situasi politik, kekerasan, pencurian, pencabulan, narkoba dan berbagai kejahatan lainnya

Tapi, ini ramai juga dikalangan orang dewasa! Meskipun tidak semuanya, tapi pada intinya orang dewasa pun ikut mendengungkan om telolet.

Dalam hitungan menit, puluhan orang khususnya dalam lingkar pertemanan saya, ramai menbroadcast om telolet dalam group-group whats app, twitter, facebook dan berbagai jejaring sosial lainnya. Ini aneh!

Apa tidak ada sesuatu hal lain yang Lebih produktif atau lebih bermanfaat untuk di dengungkan?

Sebagaimana keturunan ideologis kartosuwiryo, yang ingin menjadikan Indonesia sebagai negara Islam mereka dengungkan "takbir" versi mereka dengan tujuan melenyapkan orang-orang yang tidak sefaham dengan mereka. Maka, yang harus kita dengungkan adalah antitesa dari pemikiran mereka.

Menghargai yang berbeda dengan kita! Negara yang menjunjung tinggi Pancasila!

Namun, tidak menutup kemungkinan bahwa, booming-nya telolet ini karena jenuhnya masyarakat dalam menghadapi peliknya situasi politik di Indonesia ini. Khususnya urusan Ibu Kota! Dari yang tidak terbiasa mikir sampai pemikir, semua ikut andil dalam persoalan Ibu kota! Dahsyat bukan?

Semoga om telolet ini, hanya mengisi ruang kejenuhan masyarakat dalam sesaat. Bukan malah melupakan persoalan yang lebih penting dibanding dengan persoalan remeh ini.