Sabtu, 24 Desember 2016

Pancasila, Lima Dasar Cinta

Cinta, satu kata yang sebenarnya dalam mengekspresikannya tak perlu bahasa. Tapi, tanpa bahasa seseorang tak bisa memahami eksistensi cinta. Kecuali yang sudah mabuk cinta!


Jika kita tahu dan kita pelajari, falsafah atau ideologi bangsa ini ada atas dasar cinta. Bagaimana tidak, kelima dasar itu berdiri dengan prinsip universal. Ia melampaui seluruh perbedaan yang ada pada masyarakat Indonesia.


Sebagaimana di kutip dalam bukunya Yudi Latif, bahwa kesemua Sila dalam Pancasila diepersatukan oleh Cinta Kasih.

Manusia ada karena ada yang menciptakan. Manusia adalah kristalisasi dari cinta kasih Sang Maha Pencipta sebagai sebab pertama. Sebagai makhluk ciptaan, ia tebatas, relatif dan tergantung sehingga memerlukan keterbukaan pada sesuatu yang transenden untuk menemukan sandaran religi yang mutlak. Menolak transendensi yang mutlak beresiko memultlakkan yang relatif. saat religi dimungkiri, manusia terdorong untuk memutlakkan hal-hal yang imanen. sebagai kristalisasi dari cinta kasih "Tuhan", manusia harus mengembangkan cara berketuhanan yang penuh dengan cinta kasih. (Ketuhanan Yang Maha Esa)

Manusia ada bersama. Ia tak mungkin bisa berdiri sendiri, itu sebabnya ia disebut makhluk sosial. Untuk ada bersama yang lain, manusia tidak bisa tidak harus ada bersama dengan Cinta; dengan mengembangkan rasa kemanusiaan yang penuh cinta kasih yang lain. (Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab)

Dalam ada bersama, manusia sebagai makhluk sosial memerlukan ruang hidup yang kongkret dan pergaulan hidup dalam ralitas kemajemukan semesta mansusia. Cara menghidupkan cinta kasih dalam kebhinekaan manusia yang mendiami tanah air ini adalah dengan menjaga persatuan bangsa! (Persatuan Indonesia)

Dalam mengembangkan kehidupan bersama, cara mengambil keputusan yang menyangkut masalah bersama ditempuh dengan semangat cinta kasih. Ukuran utama dari cinta adalah saling menghormati. Cara menghormati manusia dengan memandangnya sebagai subjek yang berdaulat, bukan objek manipulasi, eksploitasi dan eksekusi, itulah yang disebut demokrasi dalam arti sejati. (Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat dalam kebijaksanaan perwakilan)

Keberadaan manusia ialah roh yang menjasmani. Secara Jasmaniah, manusia memerlukan papan, sandang dan pangan. Perwujudan khusus kemanusiaan melalui cara mencintai sesama manusia dengan berbagi kebutuhan jasmaniah secara Fair . Itulah yang disebut dengan Keadilan Sosial!
(Keadilan sosial Bagi seluruh rakyat Indonesia)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar