Seperti apa sih agama
Islam itu? Mungkin pertanyaan itu bisa saja terlintas di benak orang-orang yang
tidak tahu dan tidak mengenal Islam. Islam itu agama teroris ya? Itu juga
mungkin pertanyaan yang terlintas dalam
benak orang yang tidak mengenal Islam namun sudah mengeluarkan pendapat.
Terlebih lagi sekarang ini banyak orang
yang mengaku Islam namun sikapnya jauh dari islam, mereka menggunakan kedok
islam tapi perilaku teroris. Saya sedikit mengutip kata-kata Ludwig Von
Feuerbach yah, meskipun ia adalah filosof materialis, namun patut juga beberapa
argumentnya dijadikan rujukan, ia mengatakan,” Manusia adalah apa yang ia
makan, makanan menentukan kehidupan manusia, termasuk kehidupan beragamanya”.
Jadi bisa juga kita analogikan seperti orang islam makan daging anjing yang
akhirnya orang itu jadi keras hatinya, gampang marah akibat makan daging anjing
itu, nah pertanyaannya, siapa yang salah donk? Orang itu yang makan daging
anjing atau agama islam kah? Padahal Islam sendiri melarangnya. Perlu kita
ketahui bahwa agama itu bisa berperan dan tidak berperan, bergantung pada yang
memeluknya, bergantung pada peran yang diberikan pada agama, dan bagaimana
memandang agama. Jikalau memandang agama hanya sebatas ikut-ikutan aja, gak
enak ama tetangga kalau gak punya
agama,atau mungkin kalau orang Indo bisa saja takut kalau gak beragama bisa
saja di usir dari Indo karna gak sesuai dengan prosedur negaranya.nah ini nih
yang repot, kalau hanya sekedar untuk embel-embel saja ketika orang itu
melakukan kesalahan yang sedikit melenceng orang akan mengklaim bahwa itu lah
ajaran agama tertentu. Itulah pandangan manusia sekarang-sekarang ini, gampang
sekali berpendapat dan begitu sigapnya menyebarankan pendapatnya yang padahal
belum tentu betul apa yang di ungkapkannya, kalau dalam bahasa sekarang ini
gossip.
Banyak orang yang
memperbincangkan agama, dan berakhir dengan runcing hanya karena memandang dari
dimensi yang berbeda. Satu pihak memandang bahwa kesadaran agama sedang
bangkit, ketika melihat masjid-masjid dipenuhi dengan orang-orang, atau melihat
dalam sebuah acara mauled nabi, isra’ dan mi’roj banyak orang yang datang dalam
acara itu, atau melihat pemeluk agama melakukan ritual puasa di setiap satu
bulan dalam setahun. Dan pihak yang lain menunjukkan mundurnya perasaan
beragama dengan meningkatkan tindakan kriminali, tindakan anti social, dan
kemerosotan moral. Kedua belah pihak tidak akan bertemu, karena kedua pihak itu
berbeda, berada dalam dimensi yang berbeda. Pihak pertama berada dalam dimensi
ritual, dan pihak ke dua dalam dimensi sosial. Padahal bukan itu yang di
ajarkan islam. Kalau sekedar mengikuti ritual saja tanpa tahu kenapa ia
mengikuti ritual itu, tanpa tahu untuk apa mengikuti ritual itu? Jelas itu
bukan yan di ajarkan dari Islam sendiri,,, karna dalam islam mengajarkan ketika
kita melakukan sesuatu kita harus tahu penyebab kita melakukannya dan untuk apa
kita melakukannya. Seperti contoh sederhana nih, ketika orang shalat dan dia
tidak tahu makan shalat atau mengapa diashalat, maka shalat dia gak akan di
terima. Kenapa? Karena tujuan dari shalat itu banyak sekali. Shalat mengajarkan
kita bahwa di mata Tuhan, kita semua sama mau pejabat, presiden, rakyat biasa
semua itu sama berada dalam satu jajar( dalam shalat berjama’ah), shalat juga
merupakan bentuk penghambaan kita pada
Sang Khaliq dsb. Jika melakukan shalat tanpa tahu mengapa dia shalat,
dan shalatnya itu hanya sekedar shalat aja maka apa beda dengan orang yang
tidak shalat?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar