Senin, 15 Februari 2016

Menyemai Benih Toleransi


Indonesia adalah negara yang penuh dengan keragaman. Oleh karena itu, masyarakatnya pun disebut sebagai masyarakat multikultural, yaitu masyarakat yang memiliki banyak kebudayaan. Kita bisa melihat dari sabang sampai merauke, baju-baju batik, alat-alat musik, lagu-lagu daerah, dan bahasa-bahasa setiap daerah. Namun demikian, Indonesia tentap menjaga persatuan. Perbedaan itu menjadi satu sehingga yang muncul adalah kita sebagai bangsa Indonesia dengan bahasa yang satu-bahasa Indonesia-, ideologi yang satu -ideologi Pancasila-.
 
Hal itu menunjukkan bahwa Indonesia dibangun atas dasar toleransi. Baik antar suku, ras, agama atau kepercayaan. Bayangkan saja jika antar etnis atau suku saling menguat, mengklaim negara Indonesia, maka apa yang terjadi? Tentu yang terjadi bukan persatuan, akan tapi perpecahan. Ketika terjadi perpecahan, apakah bisa melawan penjajahan secara independen satu suku atau etnis? Tentu saja tidak. Melawan penjajahan harus secara kolektif, antar etnis atau suku harus membentuk satu kesatuan untuk merebut kemerdekaan Indonesia. Oleh karena itu, kita perlu mensyukuri perjuangan para pahlawan bangsa yang telah berhimpun untuk melawan penjajah. 

Dengan cara apa kita mensyukuri Perjuangan para Pahlawan?
Salah satu ungkapan rasa syukur kepada jasa para pahlawan yang telah berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia adalah dengan menjaganya. Mejaga berarti tidak merusak, tidak membuat kerusuhan, kegaduhan apalagi menciptakan perpecahan dan semacamnya. Oleh karena Indonesia dibangun atas dasar toleransi, menjaganya pun harus dengan toleransi.

Benih-benih toleransi sebenarnya jika kita telusuri, sudah ada dalam diri setiap manusia. Terbukti bahwa kita terlahir dari hasil toleransi antara kedua orang tua. Mereka saling menghargai pendapat, berbagi pandangan, menghormati di antara keduanya hingga lahirlah seorang bayi.
Akan tetapi, semakin majunya zaman, kita melupakan dasar-dasar toleransi dari kedua orang tua maupun dasar-dasar toleransi atas terbentuknya negara Indonesia ini. Ini merupakan salah satu kemunduran bangsa Indonesia. kita perlua adanya penyemaian kembali benih-benih toleransi yang dahulu sudah tertanam dalam jiwa setiap orang lebih khusus bangsa Indonesia.

Menumbuhkembangkan kembali benih toleransi ini mungkin dimulai dari diri. Cobalah menganggap penting orang-orang diluar diri kita sepenting kita menganggap diri kita sendiri. Hal itu akan membuat orang merasa dihargai. Ketika orang berbeda pemahaman dengan kita, kita tak perlu mengusik pemahaman orang lain. Mempertahankan pemahaman kita itu sangat penting, tapi membela kebebasan orang untuk memahami Sesutu berbeda dengan kita itu jauh lebih penting. Karena, itu yang akan membuat kita menjadi bersatu. Berbagai perbedaan dalam satu Indonesia adalah sebuah keniscayaan. sehungga, adanya perbedaan bukanlah menjadi sebuah problem. Yang menjadi problem saat ini adalah timbulnya suatu perpecahan yang mana sebelumnya tidak ada perpecahan itu. Maka dari itu, damailah Indonesiaku, merdeka bangsaku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar