Senin, 15 Februari 2016

Jilbab Milik Islam?



Benarkah Jilbab hanya Milik Ummat Islam?. Bagi sebagian orang yang buta informasi, mungkin pertanyaan semacam ini merupakan pertanyaan untuk orang bodoh. Karna pertanyaan seperti itu sudah pasti jawabannya iya. Orang yang berjilbab pasti muslim atau orang muslim pasti memakai jilbab. Kalau orang muslim tidak memakai jilbab berarti dia bukan muslim dan kalau dia bukan muslim maka dia bukan teman kita. jika demikian, akan bermunculan perdebatan dan tindakan yang menafikan keberagaman dan membelenggu hak asasi manusia. Padahal, jikalau kita bukan teman sesama muslim, kita masih bisa menjadikan orang yang berbeda dengan kita sebagai teman sesame bangsa Indonesia untuk kita warga Indonesia ataupun kalau bukan orang Indonesia kita adalah teman sesame manusia.
Sekarang ini, jilbab sering dipersepsikan sebagai sesuatu yang eksklusif dan tidak bisa menerima sekaligus diterima dalam suatu perbedaan. Padahal sama-sama jilbab, perbedaannya hanya pada fungsinya saja. Apalah arti perbedaan itu jikalau masih ada persamaan?

Pada awalnya istilah jilbab di Indonesia dikenal sebagai kerudung untuk menutupi kepala (rambut) wanita. Di beberapa negara Islam, pakaian sejenis jilbab dikenal dengan beberapa istilah, seperti pardeh di India, charshaf di Turki, dan Pakistan, milayat di Libya, abaya di Irak, dan hijb di beberapa negara Arab-Afrika seperti di Mesir, Sudan, dan Yaman. Terlepas dari istilah yang digunakan, sebenarnya konsep hijb bukanlah milik Islam saja. Seperti halnya dalam kitab Taurat, kitab suci agama Yahudi, sudah dikenal beberapa istilah yang semakna dengan hijb seperti tiferet. Demikian pula dalam kitab Injil yang merupakan kitab suci agama Nasrani (Kristen dan Katolik) juga ditemukan istilah semakna. Misalnya istilah zammah, realah, zaif dan mitpahat. Orang-orang Kristen ortodoks juga menggunakan jilbab, kaum Zoroaster, kaum amish dll.

Ketika kita melabelkan bahwa jilbab itu hanya milik Islam itu berarti kita telah melakukan suatu kedzaliman yang besar. Karena, pemakaian jilbab tidak hanya untuk orang Islam saja. Tetapi, agama-agama lain pun memakainya. Berhentilah memberi label jilbab milik orang Islam untuk menghargai agama-agama di luar Islam yang juga menggunakan jilbab. Dengan kita menghargai orang lain di luar agama kita maka kita pun akan dihargai oleh orang lain.