Sabtu, 24 Desember 2016
Pancasila, Lima Dasar Cinta
Jumat, 23 Desember 2016
Om Toleran Om!
Ramenya "lebaran" Telolet hampir ngalahin lebaran yang sebenarnya.
Dari anak-anak sampai yang sudah beranak tak lupa mengucapkan om telolet om. Bahkan, dilingkungan kampus yang ga ada bus pun, orang-orang berebut "Zikiran" om telolet om!
Disadar atau tidak, kata om telolet om masuk di dalam alam bawah sadar kita. Padahal, kata itu tak ada makna yang bisa diambil kebermanfaatannya. Hanya ada satu makna, meminta dibunyikannya klakson telolet. Just that!
Ironisnya, sebagian orang yang dalam dirimnya punya penyakit parno akut, menghubungkannya dengan Yahudi.
Hellowww, waktu pokemon go booming dihubungkan dengan yahudi, om telolet om juga dihubungkan dengan yahudi. Masih sehat otaknya?
Perlu kita ketahui bahwa, ada persoalan yang lebih penting daripada urusan remeh telolet.
Dari persoalan yang ada, yang paling bahaya dan mengancam keutuhan NKRI tak lain maraknya kaum intoleran di Indonesia. Ini karena, tidak adanya lembaga yang khusus menangani kaum intoleran.
Maka dari itu, kitalah yang harus ambil bagian dalam menjaga NKRI. Maka, apalagi selain menyebarkan toleransi???
Daripada yang masuk ke dalam alam bawah sadar kita om telolet om, lebih baik kita dendangkan, kita serukan OM TOLERAN OM!!
Mari toleran! Om toleran om!
Salam toleransi!
Surat Terbuka Muslimah untuk Saudara Kristen.
Selamat Natal,,,
Selamat Natal,,,
Selamat Natal...
Saudaraku, aku ucapkan selamat Natal untukmu. Setiap tahun, kamu merayakannya, dan setiap tahun kami umat Islam mengusik perayaanmu.
Tapi, tenanglah. Tidak semua umat Islam seperti itu saudaraku. Masih ada sebagian lagi yang akan menghormatimu, bahkan mengucapkan selamat untukmu atas hari rayamu!
Saudaraku, Isa yang kau sebut sebagai firman Tuhan juga kami mengakui sebagai Nabi kami. Maka, kelahirannya juga patut kami rayakan.
Saudaraku, ini hanya persoalan perbedaan cara pandang. Tapi, sejatinya satu yang dituju (baca: Isa/Yesus). Maka, sebenarnya kita memang saudara!
Saudaraku, dalam ajaranmu kau junjung rasa cinta kasih. Dalam ajaran kami pun selalu menjunjung welas asih! Maka, kita memiliki satu titik lagi, persamaan!
Kenapa tidak, dalam satu titik itu kita jadikan saling? Kita saling mencintai! Kita saling menyebarkan cinta kasih! Inilah yang disebut keindahan!
Saudaraku, maafkan mereka yang bersikap intoleran padamu. Mereka hanya orang-orang yang tidak memahami ajaran mereka sendiri. Mereka hanya orang-orang yang mencari sensasi.
Maka, ku ucapkan sekali lagi, selamat natal saudaraku...
Om Telolet Om!
Fenomena yang terjadi beberapa tahun yang lalu kembali didengungkan. Persoalan yang sangat remeh justru menjadi viral.
Mungkin jika itu ramai dikalangan anak-anak, tak masalah. Pasalnya, anak-anak kehilangan haknya, khususnya dalam tayangan televisi. Mereka jenuh. yang seharusnya mereka dapatkan tayangan yang sesuai untuk mereka, malah yang terjadi sebaliknya. Isinya tentang cinta, pacaran, kekerasan dalam rumah tangga dsb. Terlebih, berita-berita yang disodorkan peliknya situasi politik, kekerasan, pencurian, pencabulan, narkoba dan berbagai kejahatan lainnya
Tapi, ini ramai juga dikalangan orang dewasa! Meskipun tidak semuanya, tapi pada intinya orang dewasa pun ikut mendengungkan om telolet.
Dalam hitungan menit, puluhan orang khususnya dalam lingkar pertemanan saya, ramai menbroadcast om telolet dalam group-group whats app, twitter, facebook dan berbagai jejaring sosial lainnya. Ini aneh!
Apa tidak ada sesuatu hal lain yang Lebih produktif atau lebih bermanfaat untuk di dengungkan?
Sebagaimana keturunan ideologis kartosuwiryo, yang ingin menjadikan Indonesia sebagai negara Islam mereka dengungkan "takbir" versi mereka dengan tujuan melenyapkan orang-orang yang tidak sefaham dengan mereka. Maka, yang harus kita dengungkan adalah antitesa dari pemikiran mereka.
Menghargai yang berbeda dengan kita! Negara yang menjunjung tinggi Pancasila!
Namun, tidak menutup kemungkinan bahwa, booming-nya telolet ini karena jenuhnya masyarakat dalam menghadapi peliknya situasi politik di Indonesia ini. Khususnya urusan Ibu Kota! Dari yang tidak terbiasa mikir sampai pemikir, semua ikut andil dalam persoalan Ibu kota! Dahsyat bukan?
Semoga om telolet ini, hanya mengisi ruang kejenuhan masyarakat dalam sesaat. Bukan malah melupakan persoalan yang lebih penting dibanding dengan persoalan remeh ini.
Rabu, 25 Mei 2016
Nilai-nilai Yang Diperjuangkan Kartini atau Kebaya Kartini?
Tulisan ini saya tulis saat peringatan RA Kartini, 2015 lalu. slamat membaca, smoga bermanfaat :)
#latepost