Senin, 15 Februari 2016

No argument before know

Seperti apa sih agama Islam itu? Mungkin pertanyaan itu bisa saja terlintas di benak orang-orang yang tidak tahu dan tidak mengenal Islam. Islam itu agama teroris ya? Itu juga mungkin pertanyaan yang  terlintas dalam benak orang yang tidak mengenal Islam namun sudah mengeluarkan pendapat. Terlebih lagi sekarang ini  banyak orang yang mengaku Islam namun sikapnya jauh dari islam, mereka menggunakan kedok islam tapi perilaku teroris. Saya sedikit mengutip kata-kata Ludwig Von Feuerbach yah, meskipun ia adalah filosof materialis, namun patut juga beberapa argumentnya dijadikan rujukan, ia mengatakan,” Manusia adalah apa yang ia makan, makanan menentukan kehidupan manusia, termasuk kehidupan beragamanya”. Jadi bisa juga kita analogikan seperti orang islam makan daging anjing yang akhirnya orang itu jadi keras hatinya, gampang marah akibat makan daging anjing itu, nah pertanyaannya, siapa yang salah donk? Orang itu yang makan daging anjing atau agama islam kah? Padahal Islam sendiri melarangnya. Perlu kita ketahui bahwa agama itu bisa berperan dan tidak berperan, bergantung pada yang memeluknya, bergantung pada peran yang diberikan pada agama, dan bagaimana memandang agama. Jikalau memandang agama hanya sebatas ikut-ikutan aja, gak enak  ama tetangga kalau gak punya agama,atau mungkin kalau orang Indo bisa saja takut kalau gak beragama bisa saja di usir dari Indo karna gak sesuai dengan prosedur negaranya.nah ini nih yang repot, kalau hanya sekedar untuk embel-embel saja ketika orang itu melakukan kesalahan yang sedikit melenceng orang akan mengklaim bahwa itu lah ajaran agama tertentu. Itulah pandangan manusia sekarang-sekarang ini, gampang sekali berpendapat dan begitu sigapnya menyebarankan pendapatnya yang padahal belum tentu betul apa yang di ungkapkannya, kalau dalam bahasa sekarang ini gossip.
 
        Banyak orang yang memperbincangkan agama, dan berakhir dengan runcing hanya karena memandang dari dimensi yang berbeda. Satu pihak memandang bahwa kesadaran agama sedang bangkit, ketika melihat masjid-masjid dipenuhi dengan orang-orang, atau melihat dalam sebuah acara mauled nabi, isra’ dan mi’roj banyak orang yang datang dalam acara itu, atau melihat pemeluk agama melakukan ritual puasa di setiap satu bulan dalam setahun. Dan pihak yang lain menunjukkan mundurnya perasaan beragama dengan meningkatkan tindakan kriminali, tindakan anti social, dan kemerosotan moral. Kedua belah pihak tidak akan bertemu, karena kedua pihak itu berbeda, berada dalam dimensi yang berbeda. Pihak pertama berada dalam dimensi ritual, dan pihak ke dua dalam dimensi sosial. Padahal bukan itu yang di ajarkan islam. Kalau sekedar mengikuti ritual saja tanpa tahu kenapa ia mengikuti ritual itu, tanpa tahu untuk apa mengikuti ritual itu? Jelas itu bukan yan di ajarkan dari Islam sendiri,,, karna dalam islam mengajarkan ketika kita melakukan sesuatu kita harus tahu penyebab kita melakukannya dan untuk apa kita melakukannya. Seperti contoh sederhana nih, ketika orang shalat dan dia tidak tahu makan shalat atau mengapa diashalat, maka shalat dia gak akan di terima. Kenapa? Karena tujuan dari shalat itu banyak sekali. Shalat mengajarkan kita bahwa di mata Tuhan, kita semua sama mau pejabat, presiden, rakyat biasa semua itu sama berada dalam satu jajar( dalam shalat berjama’ah), shalat juga merupakan bentuk penghambaan kita pada  Sang Khaliq dsb. Jika melakukan shalat tanpa tahu mengapa dia shalat, dan shalatnya itu hanya sekedar shalat aja maka apa beda dengan orang yang tidak shalat?

Berbuat baik perlu syarat?

Sebuah renungan yang perlu kita resapi dan fikirkan. Mungkin saja ini terjadi pada diri kita, keluarga kita ataupun teman kita. 
suatu hari ada satu rombongan keluarga yang ingin pergi bertamasya. 

Dalam perjalanan melewati tol, di depan mobil mereka ada kecelakaan. Seketika itu, rombongan keluarga yang ingin bertamasya tersebut berhenti dan turun. Ketika turun seorang lelaki, ia dapati di dalam mobil itu seorang ibu-ibu yang mengalami luka parah.   "Sungguh kasihan ibu itu", ucap seorang lelaki dari rombongan yang turun tersebut dalam hati. Sempat ada niatan untuk menolong. Sebelum menolong, ia tanya terlebih dahulu, karena lelaki itu takut si ibu bukan orang islam. "Maaf, agama ibu apa?" ,Tanya si lelaki yang ingin menolong. "Saya islam", jawab si ibu. "Okke saya akan mnolong ibu", eh tapi ibu islam apa?". Si ibu menjawab"saya sunni pak". "okke satu faham, tapi ibu suni apa ya? Muhammadiyah atau Nu?" Tanya lagi si lelaki itu. Belum sempat si ibu menjawab, karena lukanya begitu parah, yang seharusnya butuh pertolongan cepat, akhirnya tak tertolong.

Sungguh miris jika hal demikian sampai terjadi dalam kehidupan ini. Bayangkan saja jika setiap orang yang sangat butuh pertolongan harus dengan syarat, Apa yang yang terjadi? Jika menolong orang membutuhkan syarat lalu, apa makna sebuah kebaikan?  Padahal Tuhan memberikan kita kebaikan tanpa syarat, mengapa kita begitu angkuhnya menolong tapi harus dengan syarat?

Pentingnya Bercermin



Sebagian orang lupa akan keadaan dirinya, hingga ia sibuk menilai kesalahan orang lain tanpa mau melihat dirinya. Mengkorek seluruh kejelekan orang lain sedalam-dalamnya hingga ia merasa seperti Tuhan. Kenapa kita katakan merasa seperti Tuhan? Karna didunia ini yang berhak menilai manusia adalah Tuhan dan yang berhak menghukum manusia pun hanya Tuhan. Kenapa? Karna dia yang menciptakan manusia. DIA pun berfirman bahwa semua manusia itu sama, yang menjadi pembeda tinggi rendah derajat manusia dihadapan-Nya hanyalah ketakwaannya.

Siapalah kita sebagai sesama ciptaan-Nya berani mengambil alih kekuasaan-Nya dalam penilaian bahkan penghukuman pada sesama?. Dalam hal ini, agaknya kita perlu bercermin, melihat diri seperti apakah diri kita sesungguhnya?. Perlu sadar akan diri kita. Ketika kita melihat orang lain berbeda dengan kita, kita tak perlu memberikan penghukuman, yang harus kita lakukan adalah apakah keyakinan kita sudah benar? Dari mana kita meyakini bahwa keyakinan kita benar dan keyakinan orang yang berbeda dengan kita ini salah? Padahal Tuhan pun tak mendeklarasikam bahwa keyakinan seperti ini salah dan seperti itu benar. "Heloooowww itu di akhir kiamat nanti, bukan sekarang".
Kenapa kita mau bersusah payah mengurusi orang hingga menghukumi orang yang berbeda dengan kita sebagai sebuah dosa, padahal kita nantinya di akhir kehidupan, seluruh amal kita dipertanggung jawabkan... lebih baik kita memperbaiki diri, kalau kata orang jawa "ngacao" biar tahu kekurangannya apa.

Mempertahankan Eksistensi Bangsa Indonesia


Eksistensi suatu bangsa sangat ditentukan oleh karakter yang dimilikinya. Hanya bangsa yang memiliki karakter kuat yang mampu menjadikan dirinya sebagai bangsa yang memiliki martabat dan disegani oleh bangsa-bangsa lain. Oleh karena itu, menjadi bangsa yang berkarakter merupakan keinginan kita sebagai bangsa Indonesia untuk mempertahankan Indonesia.

Keinginan menjadi bangsa yang berkarakter sesunggungnya sudah lama tertanam pada bangsa Indonesia. Para pendiri negara menuangkan keinginan itu dalam Pembukaan UUD 1945 alinea ke-2 dengan pernyataan yang tegas, "...mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur". Dari sini kita bisa memahami bahwa para pendiri negara menyadari, hanya dengan menjadi bangsa yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmurlah bangsa Indonesia menjadi bangsa yang bermartabat dan dihormati bangsa-bangsa lain.

Meskipun pendidikan karakter sudah sangat lama direncanakan oleh pemerintah, namun dalam kenyataanya perhatian terhadap pembangunan karakter bangsa belum terjaga dengan baik, sehingga hasilnya pun belum bisa optimal. Fenomena keseharian menunjukkan perilaku masyarakat belum sejalan dengan karakter bangsa yang dijiwai oleh Falsafah Pancasila.
Yang dimaksud dengan Karakter yang berlandaskan falsafah Pancasila yaitu bahwa setiap aspek karakter harus dijiwai ke lima sila Pancasila secara komprehensif yang dapat dijelaskan sebagai dikemukakan oleh Yudi Latif dalam bukunya Negara Paripurna yaitu sebagai berikut:

Pertama, menurut alam pemikiran pancasila, nilai-nilai ketuhanan (religiositas) sebagai sumber etika dan spiritualitas (yang bersifat vertical-transendental) dianggap penting sebagai fundamen etik kehidupan bernegara. Artinya, bahwa negara diharapkan dapat melindungi dan mengembangkan kehidupan beragama serta dapat memainkan peran publik yang berkaitan dengan penguatan etika sosial. Oleh karena Indonesia negara yang dihuni oleh multiagama dan multikeyakinan, negara Indonesia diharapkan mengambil jarak yang sama terhadap semua agama atau keyakinan dan melindungi semua agama atau keyakinan. Maka, kebijakan-kebijakan yang ada dalam Indonesia ini tidak boleh mengambil dari satu agama saja, sehingga terbentuklah keharmonisan antar agama atau keyakinan diantara warga Indonesia.

Kedua, menurut alam pemikiran pancasila, nilai-nilai kemanusiaan universal yang bersumber dari hukum Tuhan, hukum alam, dan sifat-sifat sosial manusia (yang bersifat horizontal) dianggap penting sebagai fundamen etika-politik kehidupan bernegara dalam pergaulan dunia. Prinsip kebangsaan dan yang luas yang mengarah pada persaudaraan dunia itu dikembangkan melalui jalan eksternalisasi dan internalisasi. Artinya, dalam taraf keluar, bangsa Indonesia harus menggunakan segenap daya dan khazanah yang dimilikimya untuk bebas aktif “ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial”. Dalam taraf kedalam, bangsa Indonesia mengakui dan memuliakan hak-hak dasar warga dan penduduk negeri. Landasan etik sebagai prasarat persaudaraan universa, ini adalah “adil dan “beradab”.

Ketiga, menurut alam pemikiran pancasila, aktualisasi nilai-nilai etis kemanusiaan itu terlebih dahulu harus mengakar kuat dalam lingkungan pergaulan kebangsaan yang lebih dekat sebelum menjangkau pergaluan dunia yang lebih jauh. Dalam internalisasi nilai-nilai persaudaraan kemanusiaan ini, Indonesia adalah negara persatuan kebangsaan yang mengatasi paham golongan dan perseorangan. Persatuan dari kebhinekaan masyarakat Indonesia dikelola berdasarkan konsepsi kebangsaan yang mengekspresikan persatuan dalam keragaman dan keragaman dalam persatuan, yang dalam symbol negara diungkapkan dengan “Bhineka Tunggal Ika”, yang artinya berbeda-beda namun pada hakikatnya satu.


Keempat, menurut alam pemikiran pancasila, nilai ketuhanan, nilai kemanusiaan dan nilai serta cita-cita kebangsaan itu dalam aktualisasinya harus menjunj ung tinggi kedaulatan rakyat dalam semangat  permusyawarakatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan. Artinya, dalam pengambilan keputusan tidak boleh hanya mengambil dari golongan minoritas dan mengesampingkan mayoritas saja. Akan tetapi, kebijakan harus merepresentasikan dari keduanya tanpa memandang bulu.
Kelima, menurut alam pemikiran pancasila, nilai ketuhanan, nilai kemanusiaan, nilai dan cita-cita kebangsaan, serta demokrasi permusyawaratan itu memperoleh kepenuhan artinya sejauh dapat mewujudkan keadilan sosial.

Demikianlah ke lima karakter yang harus dimiliki sebagai warga Indonesia agar eksistensi dan keutuhan Indonesia tetap terjaga. Damai Indonesiaku, damai negriku.

Menyemai Benih Toleransi


Indonesia adalah negara yang penuh dengan keragaman. Oleh karena itu, masyarakatnya pun disebut sebagai masyarakat multikultural, yaitu masyarakat yang memiliki banyak kebudayaan. Kita bisa melihat dari sabang sampai merauke, baju-baju batik, alat-alat musik, lagu-lagu daerah, dan bahasa-bahasa setiap daerah. Namun demikian, Indonesia tentap menjaga persatuan. Perbedaan itu menjadi satu sehingga yang muncul adalah kita sebagai bangsa Indonesia dengan bahasa yang satu-bahasa Indonesia-, ideologi yang satu -ideologi Pancasila-.
 
Hal itu menunjukkan bahwa Indonesia dibangun atas dasar toleransi. Baik antar suku, ras, agama atau kepercayaan. Bayangkan saja jika antar etnis atau suku saling menguat, mengklaim negara Indonesia, maka apa yang terjadi? Tentu yang terjadi bukan persatuan, akan tapi perpecahan. Ketika terjadi perpecahan, apakah bisa melawan penjajahan secara independen satu suku atau etnis? Tentu saja tidak. Melawan penjajahan harus secara kolektif, antar etnis atau suku harus membentuk satu kesatuan untuk merebut kemerdekaan Indonesia. Oleh karena itu, kita perlu mensyukuri perjuangan para pahlawan bangsa yang telah berhimpun untuk melawan penjajah. 

Dengan cara apa kita mensyukuri Perjuangan para Pahlawan?
Salah satu ungkapan rasa syukur kepada jasa para pahlawan yang telah berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia adalah dengan menjaganya. Mejaga berarti tidak merusak, tidak membuat kerusuhan, kegaduhan apalagi menciptakan perpecahan dan semacamnya. Oleh karena Indonesia dibangun atas dasar toleransi, menjaganya pun harus dengan toleransi.

Benih-benih toleransi sebenarnya jika kita telusuri, sudah ada dalam diri setiap manusia. Terbukti bahwa kita terlahir dari hasil toleransi antara kedua orang tua. Mereka saling menghargai pendapat, berbagi pandangan, menghormati di antara keduanya hingga lahirlah seorang bayi.
Akan tetapi, semakin majunya zaman, kita melupakan dasar-dasar toleransi dari kedua orang tua maupun dasar-dasar toleransi atas terbentuknya negara Indonesia ini. Ini merupakan salah satu kemunduran bangsa Indonesia. kita perlua adanya penyemaian kembali benih-benih toleransi yang dahulu sudah tertanam dalam jiwa setiap orang lebih khusus bangsa Indonesia.

Menumbuhkembangkan kembali benih toleransi ini mungkin dimulai dari diri. Cobalah menganggap penting orang-orang diluar diri kita sepenting kita menganggap diri kita sendiri. Hal itu akan membuat orang merasa dihargai. Ketika orang berbeda pemahaman dengan kita, kita tak perlu mengusik pemahaman orang lain. Mempertahankan pemahaman kita itu sangat penting, tapi membela kebebasan orang untuk memahami Sesutu berbeda dengan kita itu jauh lebih penting. Karena, itu yang akan membuat kita menjadi bersatu. Berbagai perbedaan dalam satu Indonesia adalah sebuah keniscayaan. sehungga, adanya perbedaan bukanlah menjadi sebuah problem. Yang menjadi problem saat ini adalah timbulnya suatu perpecahan yang mana sebelumnya tidak ada perpecahan itu. Maka dari itu, damailah Indonesiaku, merdeka bangsaku.

Berkemanusiaan yang Adil dan Beradab


Indonesia merupakan negara yang berasaskan pancasila. Pancasila ini sebagai dasar filsafat negara Republik Indonesia. Sebagai warga negara Indonesia, sudah seharusnya memahami dasar negaranya untuk diamalkan dalam setiap aspek kehidupan dalam rangka bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Manusia dalam fitrohnya, ia mencintai kepada kebaikan. Dan hati manusia pada dasarnya memiliki kelembutan. Ketika ia melihat hal-hal keji seperti pembunuhan, pelecahan ataupun hal-hal semacamnya ia tidak akan tega melihatnya bahkan ketika tak terbiasa melihatnya bisa saja pingsan. Akan tetapi, ketika manusia sudah terbiasa melihat hal-hal semacam itu, maka tidak akan memberikan efek apapun pada dirinya. Oleh karena itu, perlu adanya bimbingan atau pembinaan dalam menumbuhkan kembali fitroh kebaikan tersebut, agar dalat meraih derajat kemanusiaan atau bisa disebut sebagai manusia.

Dalam sila ke dua pancasila yang berbunyi 'kemanusiaan yang adil dan beradab', dapat dipahami bahwa menjunjung nilai kemanusiaan, bersikap adil dan mengedepankan adab merupakan sebuah keniscayaan dalam lingkungan sosial Indonesia untuk menegakkan keadilan. Berkemanusiaan artinya ia bersifat kemanusiaan.

Sila sebelumnya memberikan pemahaman kepada kita untuk mengEsakan Tuhan, dan mengakui bahwa yang satu hanya lah Tuhan. Dan pada sila kedua ini yang harus kita lakukan adalah bersosial ,karena berkaitan dengan manusia. Hal ini berkaca pada asal-usul manusia yaitu terdiri dari dua unsur, roh kudus (Roh Tuhan) dan lempung busuk(tanah). Sehingga, selain ia harus melakukan hubungan ke atas(vertikal) dalam hal ini menyembah Allah, ia pun harus berinteraksi secara horizontal (melakukan interaksi dengan sesama manusia).
Jadi, ketika kita membiarkan tindakan kekejaman atau bahkan ikut serta dalam tindakan kejahatan seperti mencatut hak asasi manusia baik berkaitan dengan ibadah, atau hanya karena berbeda keyakinan ataupun berbeda agama itu sama saja dengan menanggalkan kemanusiaan kita. Lalu kita disebut apa? Tentu saja yang lbih rendah dari manusia. Seperti hewan mungkin atau tumbuhan dsb. Sudah tentu hal itu tidak sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia yaitu membentuk manusia yang adil dan beradab. Apalagi dengan  apa yang diharapkan oleh Tuhan. Karena Tuhan itu Maha Baik sudah tentu yang Ia harapkam adalah Kebaikan.